Selasa, 23 Juli 2019

BIrth DAy

Hai, ketemu lagi.
Ini tulisan keduaku, tulisan pertamaku aku post 2015, ya 4 tahun yang lalu, waktu yang sangat lama.

Hari ini aku hanya ingin sharing tentang hari ulang tahunku. Ya, hari ini aku ulang tahun, tepat hari ini aku genap berumur 26 tahun, usia yang matang seharusnya, tapi aku masih saja berkutat dengan pertentangan dalam diriku sendiri. Seperti yang sudah aku ceritakan di tulisanku sebelumnya, aku salah jurusan kuliah dan itu bukan atas dasar keinginanku. But, sekarang aku tak mau bahas tentang itu, aku hanya ingin sharing tentang hari ulang tahunku dari mulai aku membuka mata tadi pagi, sampai di detik aku mulai menulis tulisan ini. Sebelumnya aku mau tanya, apa kalian melihat ada yang aneh dengan judul diatas? Ya, aku tidak sedang typo, aku sengaja mengetiknya seperti itu, you know why? Mari sedikit berfilosofis. Huruf I pada kata 'birth' dan huruf A pada kata 'day' aku ketik dengan huruf kapital bukan tanpa alasan. Huruf I aku maknai sebagai INCREDIBLE yang berarti luar biasa dan huruf A berarti AWESOME atau bisa juga AMAZING yang artinya kurang lebih sama, yaitu mengagumkan. Mari kita mulai.

Tanggal 23 Juli 2019, aku dibangunkan oleh suara alarm hapeku. Waktu menunjukkan pukul 5 tepat, namun aku bangun hanya sekedar mematikan alarm, mataku masih terasa berat, semalam aku tidur telat. Jam 5.30 aku terbangun untuk kedua kalinya. Karena aku belum sholat subuh, aku langsung pergi ke kamar mandi, ambil air wudhu lalu sholat. Terlalu siang untuk sholat subuh sebenarnya, tolong jangan tiru perilaku ini. Setelah itu aku menyetrika baju. Aku punya kebiasaan menyetrika baju pada saat akan digunakan saja, sungguh perilaku yang buruk. Anda pasti tahu kegiatan apa saja yang aku lakukan setelah menyetrika baju sampai saya tiba di kantor.


Di kantor, semua berjalan seperti biasa, nothing special. Hanya beberapa teman yang memang kenal dekat mengucapkan selamat, aku anggap itu hanya formalitas. Sudah menjadi kebiasaan kami, sekitar pukul 08.00 kami sarapan bersama di Warung Mbak Ayu. Semua selesai makan, saatnya membayar. Aku traktir teman-temanku, ya walaupun sebenarnya duit lagi ngepress, sekali-kali tak apalah.
Setelah sarapan waktu berjalan seperti hari-hari normal.

Waktunya pulang, tapi aku memutuskan untuk tinggal di kantor. Akhir-akhir ini setiap hari selasa mulai ada latihan voli di kantor, aku diam di meja kerjaku berharap seseorang mengajakku bermain, walaupun sebenarnya tanpa diajak pun aku tetap boleh bermain. Then, you know what? Tidak ada yang mengajakku bermain, akhirnya aku hanya menonton mereka bermain. Lagian aku sedang tidak ingin ingin amat bermain voli.

Jam 17.30 aku memutuskan pergi ke mall terdekat untuk menonton film di bioskop. Kalian ada yang mengikuti sekuel The Avengers nya Marvel? Aku termasuk orang yang mengikuti dari awal Marvel Cinematic Universe (MCU) dimulai. Film terbaru yang tayang adalah "Spider Man-Far From Home". Sudah dari beberapa minggu kemarin sebenarnya aku ingin menonton film ini, tapi tidak ada teman yang mau aku ajak menonton. Akhirnya aku rencanakan menonton pada hari ulang tahunku.

Setelah membeli tiket, aku sholat maghrib dulu, lalu bermain game sampai studio dibuka. Aku pun menonton dengan antusias. Ternyata diluar dugaanku, aku begitu menikmati jalannya film, aku tidak keluar studio sampai gambar di layar benar-benar habis. Rencanaku berjalan sangat sukses, aku sangat senang hari ini. Selepas menonton aku mengendarai Joni, motor bututku keliling. Di perjalanan terbesit pikiran konyol, aku ingin menulis tentang hari ini. Aku memacu motorku dan tempat yang langsung aku pikirkan adalah kantor. Mungkin diantara kalian berfikir, "kenapa tidak menulis di kos saja?" Ya, aku juga sempat berfikir seperti itu, tapi aku urungkan, karena aku ingin sesampainya di kos nanti aku langsung istirahat. Sampailah aku di kantor dan menulis apa saja yang aku pikirkan, aku tidak lagi berpikir bagus atau tidak tulisanku, aku hanya ingin mengabadikan momenku hari ini dalam tulisan, itu saja. Semoga kalian tidak mual membaca tulisanku. Hahaha.

Dari yang telah aku ceritakan diatas, aku hanya ingin menyampaikan beberapa perspektifku. Pertama, di hari ulang tahunku ini, aku merasa sangat kesepian, terlepas ucapan-ucapan yang aku terima, aku benar-benar kesepian, bahkan dari beberapa hari sebelum ulang tahunku. Menonton film yang aku suka sendirian (tanpa ada teman yang dikenal) buatku merupakan suatu penerimaan dan perdamaian dengan kesepian, aku menerimanya, memeluknya. Setelah menonton film tadi, aku jadi lebih bisa menerima kesendirianku, dengan sesekali aku selipkan kata-kata untuk diriku sendiri "I just wanna do, what I wanna do". Aku baru sadar, selama ini aku terlalu pelit untuk diriku sendiri. Aku mulai mencoba untuk lebih memanjakan diriku, yang aku mulai beberapa minggu kemarin saat liburan ke Bromo walaupun saat itu kantongku sedang cekak.

Oke, sekian saja dari aku, semoga kalian nyaman membacanya, maaf untuk tata bahasa yang masih berantakan. Sampai jumpa lagi di tulisanku selanjutnya, byeee.

Selasa, 25 Agustus 2015

Salah Jurusan? Menyerah atau Lanjut?

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabaraakatuh

Hallo, perkenalkan saya nama saya Harrizky Dwi Nugroho, biasa dipanggil Harriz, Aris, Rizky, Kiki, ada juga yang manggil Dwi, ya sepenake bae lah. Saya asli Brebes. Oh ya, ini kali pertama saya bermain blog, jadi masih agak aneh keliatannya. Haha, abaikan.

Pada kesempatan ini saya ingin sharing sedikit aja sih, masalah yang saya rasa sering sekali dialami para adik-adik (saya juga sih hehe) yang baru masuk atau bahkan sudah hampir lulus kuliah. Ya,tepat sekali, jawabannya adalah salah jurusan. Banyak sekali faktor yang mempengaruhi seseorang salah dalam mengambil jurusan kuliah. Ada karena tuntutan orang tua, yang penting kuliah, wis kadung ketrima dll. Kalau saya pribadi adalah karena tuntutan dari orang tua, padahal saya sudah memilih jurusan yang saya inginkan, pada waktu itu saya ingin masuk ke jurusan Sastra Inggris, karena saya memang sangat tertarik pada sastra dan ingin sekali mengembangkan kemampuan bahasa Inggris saya. Tapi orang tua menghendaki saya untuk masuk ke jurusan Teknik Sipil, alasannya kalau masuk Sastra Inggris mau jadi apa? Nyari kerjanya susah, bla bla bla. Padahal dari SD, nilai itung-itungan saya selalu jelek. Tapi yah, akhirnya saya lulus juga walau dengan setengah hati.

Saya baru dua kali bekerja (di Bekasi dan di Pandeglang), tapi pada dua kesempatan tersebut, saya belum juga bisa menyatu dengan "dunia" yang sama sekali tidak saya inginkan. Dan yang saya alami, itu sangat berat. Pada saat saya bekerja di Pandeglang, saya bertemu dengan orang PU (sebenarnya sudah pensiun, tapi kembali diperbantukan) bernama pak John, beliau orang asli Padang, beliau seorang sarjana S3 lulusan luar negeri, dan (maaf) beliau atheis. Kami bertemu di batching plan, karena saat itu saya dan atasan saya akan melakukan trail mix beton. Pada saat santai, kami berbincang-bincang masalah ini itu, dan saya juga menyampaikan keluh kesah saya, bahwa saya ini dulu salah masuk kuliah, dipaksa orang tua, dll. Saya meminta pendapat dan wejangan dari  pak John. Pak John berkata "Tuhan itu tidak memberi kita rejeki, tapi memberi kita alat untuk mencari rejeki." Pada saat itu saya berfikir, bukannya rejeki setiap orang itu sudah ditetapkan ya? Saya pun sempat tidak percaya pada ucapan pak John, tapi saya berfikir, jika saya melihat dari sudut pandang negatif, semua hal juga akan menjadi negatif, tapi jika berbaik sangka, hal paling buruk sekalipun akan ada hikmahnya. Lalu perbincangan berlanjut lagi. Saya berkata "Tapi kan saya sudah bilang ke orang tua saya, saya tidak mau masuk ke Sipil, saya buruk di itung-itungan, tapi saya tetap dipaksa, ya jadinya kaya gini." Pak John menjawab dengan nada yang agak tinggi "Anda jangan menyalahkan orang tua, salahkan diri Anda sendiri, kenapa sampai umur 18 (umur dimana saya lulus SMA) belum bisa menentukan ingin jadi apa!" Saya pun berfikir, ada benarnya juga apa yang dikatakan pak John, kalau saya pada saat itu sudah punya pandangan dan arah hidup, bagaimana pun orang tua memaksa untuk masuk Sipil, saya akan tetap memilih jurusan yang saya inginkan. Dan diakhir perbincangan, pak John hanya berpesan, jalani saja yang sudah saya pilih (walaupun bukan pilihan saya), sabar dan tetap berusaha.

Ya, dari obrolan singkat tersebut, saya banyak mendapat pencerahan, dan saya merasa ada semangat baru dalam diri saya. Pesan saya untuk adik-adik yang baru masuk SMA, mulai sekarang, pikirkan kemana minat kalian, jangan sampai saat lulus nanti kalian belum punya pandangan dan akhirnya salah pilih jurusan. Salah jurusan itu tidak main-main lho, karena sebagian besar hidup kamu akan kamu habiskan dengannya. Untuk yang memang sudah terjelembab, salah jurusan bukan akhir dari segalanya kok. Kalau semangatmu sedang turun, frustasi, seperti ingin menyerah, ingat ini:

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ 

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Oke, semangat berjuang sobat, semoga bermanfaat, salam #fight. ;)
Akhir kata, Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabaraakatuh.